Rabu, 09 Agustus 2023

The Love Letter

 

“Mother is the only person who carries you for 9 months in her belly, 3 years in her arms, and forever in her hearts.”

Tulisan ini aku dedikasikan untuk anaku, anak sulungku Kyrie Eleison Immanuel Hutagalung. Supaya tulisan ini menjadi sebuah surat cinta dari seorang mama kepada anak tentang kelahirannya yang merupakan hadiah terindah dari Tuhan untuk Mama, Papa, Uti, Oppung, Uncle & Aunty. Mama berharap melalui tulisan ini, kamu tahu betapa berharganya kamu dimata Tuhan dan kami begitu mengasihi kamu.

Doa & Cinta kasihku akan selalu menyelimutimu kemanapun kakimu melangkah. Apapun yang kamu lalukan kelak jika itu baik menurut hati nuranimu, aku berharap kamu akan melakukannya dengan berani. Apapun yang kamu hadapi dan lalui, Tuhan akan senantiasa menuntun langkahmu dan Mama juga berharap kamu dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik dan tulus.



Chapter 1 

JOURNEY TO BE A MAMA 

 

1.    Berita Baik Itu Akhirnya Datang.

Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.

Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.

Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.

Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan.

Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.

TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.

Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.

Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa.

Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya. (1 Samuel 2:1–10)

Ayat itulah yang senantiasa menjadi pengiburan bagiku. Aku dan suamiku telah menikah hampir 4 tahun yang lalu, kami bahagia. Kami memiliki rumah, pekerjaan yang baik, tabungan, bahkan kami masih bisa berbagi. Kami saling support dan menyayangi satu sama lain, memiliki mertua dan ipar yang baik itu suatu anugerah bagi kami. Hanya satu yang belum kami miliki, yaitu seorang anak ditengah-tengah kami.

Kami berusaha untuk promil kemana orang bilang itu bagus. 4 rumah sakit, 4 tempat alternative, dan beberapa herbal yang orang bilang bagus, kami akan coba.

Oke, kami orang berpendidikan dan ber-Tuhan namun kami tetap mencoba ke tempat alternative. Pertama, mungkin karena kami begitu mengingini seorang anak sehingga logika kami tertutupi. Namun begitu, aku tetap berdoa dalam hati karena setengah dari diriku masih ada keraguan dalam pengobatan ini. Kedua, karena kami menuruti keinginan orang tua kami untuk melakukan pengobatan alternative tsb. Semua gagal dan memang seharusnya gagal.

Dua dokter mengatakan semua baik, tidak ada masalah. Satu dokter mengatakan rahimku pendek sehingga tidak dapat menampung sperma lebih lama. Satu lagi bahkan mengatakan bahwa aku ada kista sebesar 4 cm. Saat itu aku tidak bisa menahan tangis karena saat itu aku datang ke dokter tsb untuk periksa karena sudah 2 minggu aku telat datang bulan dan aku berharap hasilnya positif. Namun bukan kabar kehamilan yang aku terima. Tidak masalah jika dokter itu bilang aku belum hamil, karena aku sudah terbiasa kecewa akan hal itu. Namun dokter itu justru menyatakan dalam rahimku ada kista. Jahat sekali. Air mataku tidak bisa aku tahan saat itu. Di rumah sakit, di jalan, di rumah, aku menangis. Suamiku menenangkanku dan mengajaku berdoa bersama.

Didalam kamar, kami berpegangan tangan dan dia mendoakanku. Ajaib! Entah kenapa aku merasa tenang. Satu minggu kemudian kami memeriksakannya ke rumah sakit lain (karena memang aku sedikit trauma dan tidak mau ke rumah sakit yang dulu lagi) dan Tuhan sekali lagi menyatakan kasihnya kepada kami. Kista itu tidak ada!

Setelah melalui serangkaian pengobatan dari dokter, obat-obatan, HSG, dan analisa sperma, semua hasilnya baik kecuali hasil analisa sperma kurang bagus dan diminta untuk cek kembali 1 bulan ke depan. Setelah itu kami berhenti promil karena pada saat itu aku terkena sakit cacar air yang membuatku mengkonsumsi obat-obatan sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan promil.

Ya, terakhir kali kami promil dibulan Oktober 2019 karena dibulan September 2019 aku terkena cacar air dan di tahun 2020 ada pandemi Covid-19 yang membuat kami takut untuk mengunjungi Rumah Sakit. Saat itu 2 kali kami terkena covid, yaitu Delta dan Omicron. 


2.   Berkat.

Tahun 2022 pandemi sudah mulai berkurang dan menjadi New Normal. Orang-orang sudah bisa bebas berpergian. Dulu saat pandemi berlangsung, baik liburan Idul Fitri, Natal, maupun Tahun Baru, orang-orang dilarang berpergian keluar kota. Tahun baru 2022, Amang (Ayah mertuaku) mengharapkan kami untuk pulang. Saat itu posisi suamiku sedang menganggur sejak bulan Juni 2021. Dia bingung apakah harus pulang atau tidak. Akupun menyarankan suamiku untuk pulang karena uang dapat dicari, namun kesempatan membahagiakan orang tua kita tidak tahu sampai kapan kesempatan itu akan terus ada. Aku juga menyarankan suamiku agar kita bisa basuh kaki Amang & Inang (Ibu mertua). Sebenarnya aku sudah menyarankan untuk basuh kaki orang tua pada saat sebelum menikah, namun hal tsb tidak dilakukan oleh suamiku.

Entah kenapa sebelum menikah aku punya pemikiran untuk kita berdua bisa basuh kaki keluarga dahulu sebelum kita membina sebuah keluarga tersendiri. Malam itu sebelum hari pernikahan, aku membasuh kaki ibuku, berterima kasih karena sudah merawatku dan meminta maaf jika aku banyak sekali sering membuat ibuku sedih dan kecewa. Aku juga membasuh kaki adiku perempuan satu-satunya yang aku sayang. Aku merasa kurang menjadi kakak yang terbaik buat dia, namun aku bilang ke dia meskipun aku sudah menikah nanti, pintu rumahku terbuka untuk dia jika dia butuh untuk berkeluh kesah. Kami saling berpelukan dan menangis sampai-sampai aku hanya tidur 1 jam sehingga kulitku kering saat dimake up dan mataku sayu hahaha…tapi aku selalu tersenyum karena aku tidak mau foto pernikahanku buruk. >.<

Suamiku pun pernah basuh kaki ibuku setelah menikah. Waktu itu kami liburan ke kampung halamanku. Suamiku memasak ayam gulai untuk ibuku. Kami makan bersama dan kamipun basuh kaki ibuku yang membuat ibuku terharu dan mendoakan kami agar selalu bahagia. Tinggal Amang dan Inang kami belum melakukan basuh kaki meminta berkat dari mereka. Jadi tahun ini kami mau melunasi hutang kami tsb.

Kamipun pulang ke kota kelahiran suamiku dan merayakan tahun baru bersama Amang, Inang, dan saudara-saudara suami. Hari disaat kami akan balik ke Jakarta, sebelum berangkat kami basuh kaki Amang & Inang. Mereka terkejut dan terharu mungkin baru kali itu kaki mereka dibasuh oleh anak & menantu sambil meminta maaf juga meminta doa berkat dari mereka. Saat itu adalah hari yang mengharukan bagi kami sekaligus membuat kami menjadi lebih lega. Sebelum kami pergi, Amang memeluk suamiku sambil berkata “Apa yang kamu cari, pasti kamu dapatkan”.

Kami kembali ke Bekasi dengan perasaan lega. Ada suatu kekuatan tersendiri untuk kami melangkah seolah kekuatiran kami sudah terangkat. Aku mulai berserah. Semua aplikasi terkait deteksi kehamilan maupun kalender haid aku hapus dari HP. Aku sudah tidak menandai kalender lagi tanggal haid. Pola pikirku sudah berubah. “Menikah adalah untuk hidup berdua saling support saling mencintai satu sama lain dan menua bersama. Anak hanyalah bonus.” Kami menghabiskan waktu untuk bekerja, hidup berdua, jalan-jalan, dan menikmati hidup berdua.

Pada bulan Maret 2022, pada waktu Jumat Agung, saat perjamuan kudus aku berjanji pada Tuhan untuk hidup lebih baik lagi. Janjiku saat itu adalah berhenti untuk bergosip ^^ karena di kantor itu adalah hal yang sering dilakukan teman-teman selain bekerja ^^

Jadilah sejak saat itu jika teman kantor bergosip, aku menghindar dan tidak mau ikut-ikutan, akupun tidak ikut-ikutan teman-teman kantor yang berkelompok-kelompok dalam pertemanan. Aku tidak ikut A maupun B. Namun, menjadi netral itu sangat sulit karena pada akhirnya aku sendiri tidak memiliki teman akrab. Terkadang aku merasa terasing. Standar Tuhan memang sangat tinggi dan berat berbeda dengan standar manusia/ dunia. standar manusia masih bisa kompromi dengan pembenaran hidup harus balance (seimbang antara duniawi dan rohani) tapi sebenarnya Tuhan tidak suka kita hangat hangat kuku, bahkan ketika mata kita digunakan untuk melihat yang tidak benar sehingga membuat seluruh tubuh kita masuk ke neraka, alangkah lebih baik jika dicongkel mata kita?

Tgl. 18 Maret 2022 suamiku mengirim pesan melalui whatsapp bilang bahwa tadi pagi selesai doa, dia merasa seperti ada yang menggerakan untuk mencari minyak zaitun untuk membersihkan rumah. Jadi dia membeli minyak zaitun, mendoakannya dan mengoleskan minyak tsb disetiap sudut rumah. Minyak itu sudah jadi seperti minyak urapan jadi kalau kami mau berpergian jauh, suamiku selalu mengoleskannya membentuk tanda salib dikeningku setelah berdoa.

Di bulan April 2022 akhir, aku dan suami pulang ke kota kelahiranku. Saat itu adalah libur hari raya Idul Fitri. Liburan itu aku gunakan untuk ziarah ke makam Kakek, Nenek, dan Bapak. Seperti ada suatu dorongan dari hati untuk melakukan ziarah saat itu. Aku merasa kapan lagi aku nanti bisa ziarah seperti ini. Kami berkunjung juga ke keluarga bapak di Semarang. Aku senang sekali.

Pada tanggal 5 Mei 2022, kami kembali ke Bekasi. Kami sampai rumah pagi hari. Sesampainya di rumah, suamiku menyuruhku untuk test pack (cek kehamilan). Saat itu aku merasa hal itu akan sia-sia ditambah aku sudah buang air kecil sebelumnya. Padahal cek kehamilan harus memakai air kencing yang pertama. Meski begitu, aku menurut. Saat aku cek, hasilnya ada 2 garis! akupun heran apakah ini alatnya yang rusak? karena biasanya hanya garis satu. Akupun memanggil suamiku dan menanyakan jangan-jangan alat test nya sudah kadaluarsa dan suamiku menyarankan untuk cek ke bidan. Dulu, aku berkhayal ingin memberi kejutan ke suami pada saat aku hamil. Aku akan cek sendiri dan jika hasilnya positif, aku akan bungkus hasil test pack itu seperti kado dan memberikan kejutan ke suami. Namun, ini sangat berbeda. Aku yang terkejut! Hari itu juga kami pergi ke Rumah Sakit untuk memastikannya.

Dokter menanyakan kapan hari pertama haid terakhir? aku pun lupa karena semua aplikasi penanda haid ku sudah aku hapus. Suamiku yang ingat yaitu tgl 25 Maret 2022. Aku pun di USG dan terlihat kantong kehamilan dan janin yang masih sangat kecil. Hanya 1 titik. Dokter bilang usia kandunganku sudah 5 minggu. Wow! Besoknya aku diminta tidak masuk kerja oleh suami dan istirahat. Suamiku membelikan susu ibu hamil banyak sekali dan menyuruhku hanya berbaring di Kasur.

Kami sangat bahagia, keluarga besar pun bahagia. Kami sangat bersyukur. Tuhan sangat baik! Tgl. 5 Mei 2022 menjadi hari yang bahagia sekaligus bingung. Tuhan sudah memberikan kado ulang tahun ku dimuka. Dihari ulang tahunku (13 Mei 2022) aku membagikan makanan untuk teman kantor sebagai wujud syukurku.


To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar