Kamis, 10 Agustus 2023

The Love Letter - Part 2

        Chapter 1 : Journey To Be Mama - Part 2


         3.   Pertolongan Tuhan.

Kehamilanku awal-awal tidak merasakan hal-hal yang berbeda. Aku tidak merasakan mual atau ngidam. Kadang aku merasa kuatir dan ragu apakah aku sungguh hamil? Namun beberapa hari kemudian aku mulai merasa mual meskipun tidak sampai muntah, rasa mualku bisa datang sepanjang hari. Mulutku terasa pahit bahkan air putih pun terasa pahit dan aku mulai menjadi pemilih makanan. Semua makanan bisa membuatku mual hanya dengan mencium aromanya, apalagi telur! hanya melihat gambarnya saja aku tidak suka. Pada saat mau makan, aku butuh waktu lama untuk berfikir kira-kira makanan apa yang bias masuk ke perutku saat itu dan tentu saja es jeruk! hanya es jeruk asam yang bisa menghilangkan rasa pahit.

Aku merasa bayi dalam kandunganku ini adalah anak yang baik dan manis. Dibandingkan dengan kehamilan teman-temanku yang kudengar, aku merasa kehamilanku termasuk paling nyaman. Aku tidak merasa mengantuk dan lemas, selama hamil, kurang dari 10 kali aku muntah sampai keluar makanan, sisanya hanya rasa mual saja dan tidak nafsu makan tapi masih bisa aku paksakan demi kandunganku.

Setiap hari, pagi dan malam aku membaca Alkitab dengan bersuara berharap bayi dalam kandunganku ikut mendengarkannya. Apalagi dimalam hari aku memang sering terbangun untuk BAK, jadi aku sebelum kembali tertidur aku bisa saat teduh terlebih dahulu.

Dulu sebelum hamil, aku akui aku membaca Alkitab masih bolong-bolong. Saat tahu aku hamil, aku bertekad rutin membacanya dari awal sampai akhir tanpa putus. Ini salah satu hal kecil yang aku lakukan untuk mengenalkan firman Tuhan ke anakku.

Aku masih bisa berangkat kerja dari Bekasi ke Jakarta dengan motor dan kereta. Namun terkadang sepulang kerja perutku terasa kencang dan aku kelelahan jadi kami putuskan kami akan kost didekat kantorku. Saat itu tabungan kami mulai menipis karena kebutuhan kami meningkat, aku harus makan makanan sehat dan juga kontrol dokter kandungan sebulan sekali. Sebetulnya keputusan untuk ambil kost itu seperti kami berjalan dalam iman saja. Namun entah kenapa semua berjalan dengan lancar walaupun ada deg-degan nya seperti naik roller coaster.

Aku menanyai teman kantorku kost dekat kantor dan di tempat kost dia ada kamar kosong namun di lantai 2. Sebenarnya kami mencari kamar di lantai dasar untuk keamananku namun apa salah nya melihatnya dulu.

Sesampainya dikost tsb ada penjaga kost tepat depan kost yang direferensikan temanku menyapa kami, kami pun mengatakan maksud kami bahwa sedang cari kost dan hebatnya penjaga kost itu bilang tempatnya ada kamar kosong di lantai dasar. Wow, ini bukan kebetulan tapi ini kemurahan Tuhan! Kami pun langsung bayar dan bilang kalau kami akan segera pindah hari minggu ini.

Kami mulai menempati kost tgl. 29 Mei 2022, sebuah kamar kecil dengan kamar mandi didalamnya, Kasur busa, sebuah lemari pakaian, dan AC. Cukup nyaman untuk ditinggali kami berdua. Aku tak perlu takut ke kamar mandi sendirian ditengah malam, justru aku merasa tenang karena diruangan sempit ini justru mendekatkan aku dengan suamiku lebih lagi.

Masa-masa itu aku anggap sebagai masa-masa di padang gurun, saat itu suamiku sedang berusaha mencari pekerjaan. Aku tahu setiap aku di kantor, dia kesepian di kamar kost dan dia selalu berdoa supaya cepat mendapatkan pekerjaan karena sebentar lagi kami akan punya anak. Kami tidak memiliki tabungan untuk kelahiran anak, gaji ku seorang diri hanya bisa untuk membayar kebutuhan sehari-hari, 2 cicilan rumah, uang bulanan orang tua, dan biaya kontrol kandungan ke dokter specialist. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak kami.

Pada Tgl. 01 Juni 2022, suamiku mendapatkan undangan interview kerja. Kami pun menyewa working space untuk interview karena saat itu kami belum mendapatkan kode wifi kost dan signal disitu sangat susah. Aku menemani suamiku interview dan ikut mendengarkan karena kebetulan saat itu tanggal merah (Hari Lahir Pancasila). Suamiku melakukan interview dengan baik namun saat aku tanya gimana ekspresi Direktur yang menginterview dia katanya ekspresinya flat, tidak menunjukan exciting. Aku mencoba untuk menghibur suamiku supaya tidak down. Aku tahu rasanya berharap.

Malam harinya aku mendoakan pekerjaan suamiku. Aku berharap suamiku bisa cepat mendapatkan pekerjaan karena kami harus mulai menabung untuk kelahiran nanti. Suamikupun berdoa saat aku berangkat ke kantor, saat dia sendiri dikost dia minta pertolongan Tuhan supaya Tuhan melihat kami dan menolong kami. Kami percaya anak dalam kandungan kami ini adalah wujud dari belas kasih Tuhan dan Tuhan pasti juga akan sediakan semua kebutuhan anak kami.

Tgl. 17 Juni 2022, kabar baik itu tiba. Suamiku diterima kerja dan mulai bekerja awal Juli 2022. Tuhan baik. Setelah 1 tahun akhirnya suamiku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kami sangat bersyukur.

Diusia kandungan 3 bulan, Dokter mengatakan bahwa hasil lab prenatal aku kekurangan protein. Aku harus banyak makan yang mengandung protein. Tentu saja protein tinggi itu dari telur dan ikan. Aku pun memaksakan diri untuk memakan telur dan setiap hari aku makan ikan lele!

Diusia kandungan 4 bulan, mualku sudah agak berkurang dan aku sudah bisa makan telur tanpa rasa mual. Aku pun sudah merasa dalam perutku ada gerakan-gerakan yang membuatku bahagia dan terharu. Pada saat cek kandungan bulan ke 4, Dokter mengatakan akan memeriksa jenis kelamin bayi dalam kandungan. Aku memang setiap cek kandungan tidak pernah menanyakan jenis kelamin bayi karena aku sudah menanti anak ini hampir 4 tahun jadi apapun jenis kelaminnya, aku menerimanya dengan penuh rasa syukur yang terpenting bayi ini sehat tanpa kekurangan suatu apapun.

Saat dicek melalui USG, Dokter mengatakan bahwa bayiku adalah laki-laki. Kami bahagia. Kami memang telah menyiapkan nama anak laki-laki karena entah kenapa kami memiliki keyakinan dalam hati bahwa anak kami adalah laki-laki. Nama itu adalah Kyrie Eleison yang berarti Tuhan kasihinilah kami dan Immanuel yang berarti Tuhan beserta kita. Nama itu merupakan doa kami agar Tuhan berbelas kasih kepada anak kami, jika Tuhan berbelas kasih pada anak kami maka Tuhan pun akan selalu menyertainya. Dan Tuhan memang telah berbelas kasih kepada kami karena Dia telah menganugerahkan kami keturunan.

Meskipun dalam hatiku merasa bayi dalam kandunganku adalah laki-laki, namun aku selalu memanggil bayi dalam kandunganku dengan kata “Baby” karena apapun nanti yang Tuhan kasih, aku tidak mau anak ini merasa tertolak nantinya. Laki-laki maupun perempuan pasti aku terima dengan rasa syukur yang melimpah.

Tgl 25 Juli 2022 saat itu kandunganku belum genap 5 bulan. Setiap hari senin, kantorku melakukan pengecekan test antigen. Pada saat itu banyak sekali yang hasil testnya menunjukan positive dan saat aku melihat hasil testku, hasilnya positive! aku terkejut dan bingung. Saat itu aku langsung di PCR dan hasilnya baru bisa keluar secepatnya malam hari ini. Akupun diminta untuk pulang kerumah sembari menunggu hasil PCR. Sepanjang jalan aku menangis. Aku tidak memikirkan diriku. Aku sudah pernah mengalami covid 2x dan tidak masalah jika aku sendiri yang terkena, namun aku memikirkan kandunganku! Aku sangat sedih. Aku mencoba menghibur diri karena menangis hanya akan menurunkan imunku. Akupun mencari-cari film yang lucu, namun air mataku tak berhenti mengalir. Akupun tidak memberitahukan suamiku karena dia sedang bekerja, aku tidak ingin dia kuatir.

Sore hari ketika suamiku pulang kerja, aku baru mengatakannya kepada suamiku. Suamiku menenangkanku dan berkata “Tuhan sudah kasih kita anak, pasti Dia pun akan jagai anak kita. Bukankah kita selalu mendoakannya setiap hari? jadi jangan kuatir. Anak kita kuat.”. Dan Puji Tuhan, malam hari itu hasil PCR keluar dan hasilnya negative! Tuhan baik!

 

4.   Mukjizat.

Saat itu usia kandunganku sudah 6 bulanan. Setiap pagi dan malam, aku selalu membacakan Alkitab untuk janin dalam kandunganku. Aku sering mengajaknya berinteraksi dengan mengelus perut dan mengajaknya bicara. Aku berharap anakku bahagia dan sehat. Sekarang aku tahu kenapa anak disebut sebagai buah hati. Hati adalah salah satu organ yang sangat penting untuk manusia dan manusia memiliki satu hati. Semakin lama rasa sayangku semakin bertambah seiring bertambahnya usia kandunganku. Dia menemaniku kemanapun aku pergi. Ketika aku bersedih atau ada hal-hal yang membuatku sedih, anak ini memberikan semangat untuk aku tidak terlalu bersedih karena kalau aku sedih, aku takut membuat anaku juga merasa sedih didalam sana.

Aku punya teman kantor, kurnia namanya. Dia sangat senang saat tahu aku hamil karena dia tahu bagaimana usahaku untuk promil dan lamanya aku diberikan keturunan. Dia punya teman dekat yang mana dia dan temannya itu sama-sama sedang promil.

Saat itu aku bertemu dengan Kurnia di pantry kantor. Dia bercerita bahwa temannya sudah hamil, aku paham perasaan dia karena akupun mengalami hal yang sama, dimana kamu merasakan ikut bahagia untuk temanmu tapi juga sedih bersamaan karena kenapa hal itu (hamil) tidak terjadi juga kepadaku. Aku menyemangati kurnia, aku bilang : “Semua ada masanya dan kalau Tuhan sudah berkehendak maka akan jadi. Seperti aku yang promil kemanapun dan kujaga sebagai manapun jika Tuhan bilang ‘Belum’, ya tidak akan terjadi. Namun jika Tuhan bilang ‘Jadi.’ maka sesibuk apapun dan secapek apapun ya tetap jadi. Bayangkan disaat aku waktu itu perjalanan dinas ke Batam, pulang kantor selalu malam, bahkan ketika aku sudah pasrah justru saat itulah aku hamil.” Aku menyemangatinya.

Sejak saat itu, entah kenapa hatiku seperti terdorong untuk mendoakannya. Aku sempat ragu, aku takut jika aku mendoakannya dan tidak terjadi apa-apa, aku takut dia kecewa. Namun saat itu hatiku tersentil seperti Tuhan berkata : “Bukan kamu yang berkuasa membuatnya jadi ataupun tidak.” Saat itu aku tahu tugasku hanya mendoakannya.

Jika Tuhan berkuasa, kenapa harus kita doakan? mungkin kalian terbesit pertanyaan itu, karena akupun sempat mempertanyakan hal itu.

Tuhan tetap akan menjadikannya jika Dia berkehendak. Baik kita mendoakan maupun tidak. Namun apakah kita mau jadi alatnya atau melewatkan kesempatan untuk jadi alatNya? Juga Tuhan yang telah mengajarkan kita untuk berdoa. Bukankah orang yang meminta yang akan mendapat?

Sejak saat itu, sepertinya Tuhan selalu memberikan kesempatan buat aku berdua saja dengan Kurnia, namun karena keraguanku dan aku merasa belum siap, aku selalu melewatkan kesempatan tsb. Aku selalu merasa belum layak mendoakan orang lain. Sedangkan hatiku selalu ada dorongan untuk segera mengambil kesempatan itu. Dalam hati seperti berkata : “Hey, mau doa kamu buruk. Tuhan melihat hati pun Tuhan yang akan bekerja bukan karena doamu, tapi karena kuasa Tuhan. Terjadi maupun tidak, yang penting kamu sudah melakukan apa yang Tuhan suruh.” Lalu aku pun bertekad jika ada kesempatan lagi aku tidak akan mensia-siakannya.

Saat itu aku bertemu Kurnia di pantry kantor, aku sedikit ragu. Namun Kurnia membuka pembicaraan lebih dahulu. Dia bertanya-tanya seputar kehamilanku. Lalu akupun berkata : “Mau aku doakan?” padahal disana data office girl. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya fokus untuk segera melakukan apa yang Tuhan suruh tanpa menunda-nunda atau mencari-cari alasan lagi. Kurnia menjawab : “Boleh.” dengan raut muka agak bingung namun sinar matanya menunjukan semangat dan pengharapan. Akupun segera memeluknya sembari tangan kananku aku letakan pada perutnya dan mendoakannya. Tak terasa air mata kami menetes. Aku sudah tidak memikirkan lagi bahwa ada orang lain (Office girl) yang sedang ikut mendengarkan aku berdoa.

Sejak itu, kerinduan Kurnia untuk bisa hamil menjadi salah satu list dalam doaku setiap malam.

Beberapa minggu kemudian, kurnia datang ke mejaku mengatakan bahwa dia telat datang bulan. Aku menyuruhnya untuk cek ke dokter. Dia pun mengiyakan. Dia bilang setelah pulang kantor ini dia akan pergi ke dokter untuk cek kandungan.

Malamnya aku menanyakan hasil cek dokter ke Kurnia melalui Whatsapp. Dan berita suka cita pun datang. Kurnia hamil 5 minggu! Puji Tuhan. Betapa besar dan ajaib Tuhan.

Besok paginya dikantor, Kurnia mendatangi mejaku dan bilang terima kasih karena sudah mendoakannya, namun aku bilang bahwa itu semua karena kuasa Tuhan semata. Dalam hati aku berpegang teguh untuk tidak mencuri kemuliaan Tuhan.

Sebetulnya kehamilan Kurnia tidak hanya memberkati Kurnia dan keluarganya semata, tetapi justru aku lebih terberkati dari kejadian tsb. Aku sadar arti pentingnya respon hati dan yang terpenting adalah aku merasakan kasih Tuhan melingkupi aku dan juga keluargaku. Aku lebih mencintai Tuhan lebih lagi.


To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar