Jumat, 25 Agustus 2023

The Love Letter - Part 3

 

 

1.             Trimester 3

Memasuki kehamilan trimester 3, perutku semakin besar membuatku kepayahan dalam bergerak. Namun aku tetap berusaha aktif karena aku ingin mengajari anak dalam kandunganku jadi anak rajin. Aku mulai berbelanja kebutuhan bayi dan juga lembur dihari sabtu untuk mempersiapkan pekerjaan yang nantinya aku serahkan ke tim pada saat aku cuti melahirkan. Begitu banyak yang harus dipersiapkan.

Pekerjaan harus sudah rapi saat serah terima, mengajari tim apa-apa yang harus dikerjakan nantinya, membuat memo berita acara serah terima, mencari faskes terbaik di kampung halaman (karena aku berencana melahirkan di Pemalang), mengganti faskes, belanja keperluan bayi, mengurus pindahan dari kost, mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa saat pulang nanti. Semua pekerjaan itu membuat waktu terasa berjalan cepat. 

Saat aku lelah, membongkar dan melihat-lihat perlengkapan bayi yang sebagian sudah aku beli adalah hiburan tersendiri buatku. Baju-baju bayi yang kecil membuatku membayangkan gimana imutnya bayiku nanti dalam gendongan.

Kehamilanku tidak ada masalah sama sekali, hingga suatu hari setelah aku selesai lembur merapikan dokumen, aku mulai merasa tidak nyaman saat berjalan. Tulang-tulang bagian bawah sudah mulai sakit saat berdiri dan berjalan. Puji Tuhan hal itu baru terasa disaat pekerjaan sudah selesai. Aku pun mulai ambil cuti.

Adiku Cethi menjemputku untuk pulang kampung, sebelum itu kami pergi berbelanja bersama membeli kebutuhan bayi. Aku sengaja menanyai pendapat dia saat membeli baju bayi, selimut dan sebagainya. Aku membeli apa yang menjadi pilihan tante dari anaku kelak. Kami pun berkendara bertiga (tentu saja dengan Baby dalam perutku) dari Jakarta ke Pemalang dengan mobilnya. Senang sekali rasanya menghabiskan waktu berdua dengan adiku. Adik perempuanku satu-satunya. Kami mengobrol selama perjalanan.

Aku tidak tahu kapan lagi aku bisa mengahiskan waktu dengan adiku seperti ini lagi.

 


2.             Penantian.

Senang rasanya kembali ke rumah. Tempat dimana ada ketenangan dan kenyamanan. Tempat yang penuh dengan kenangan masa kecil. Ah, libur yang sangat panjang. Sebelumnya, aku selalu melalui hari-hari sibuk di kantor dari hari senin sampai jumat, dengan hiruk pikuk jalanan ibu kota yang selalu aku lalui, dimana orang-orang terlihat mengerutkan kening, lelah, dan terburu-buru. Sangat kontras dengan kehidupan di desa.

Hingga pada saat jadwal control dokter tiba. Aku memang sudah memikirkannya jauh hari untuk Rumah Sakit yang kupilih untuk tempat melahirkan nanti. Karena Dokter kandunganku yang di Bekasi menyarankan kalau memang ingin melahirkan di kampung harus memilih RS yang lumayan besar karena bayiku di indikasi ada potensi Hipoglikemi jadi perlu RS yang memadai apabila terjadi sesuatu. Jadi aku pilih RSUD di Kabupaten tempat kelahiranku. Disana aku ditangani oleh Dokter yang lumayan dikenal dalam per SC an dan orangnya sangat baik dan ramah. Hasil USG kali ini, Dokter mengatakan bahwa bayi sudah posisi memutar. Kepala sudah dibawah hanya saja masih tinggi. Dan aku harus kembali cek seminggu lagi. 

Setelah selesai, aku dan bunda menyempatkan diri berjalan-jalan dan berbelanja ke super market. Meskipun untuk berjalan tulang-tulang dibawah terasa sakit, namun aku paksakan jalan pelan-pelan. Aku senang bisa berjalan-jalan dan berbelanja bersama bunda.

Aku menghabiskan waktu dengan mempersiapkan keperluan bayi, membeli perlengkapan yang masih kurang, mencuci semua perlengkapan bayi dan menatanya, dan juga berolah raga ringan berjalan-jalan seputaran rumah. Terkadang melihat-lihat kamar adik-adik yang kosong hanya tinggal 1 adik yang masih sekolah. Waktu berjalan sangat cepat tanpa disadari. Dulu adiku yang paling kecil masih imut, dia selalu mengeluh kesepian karena semua kakak-kakaknya telah bekerja dan merantau sehingga dia hanya tinggal berdua dengan bunda. Tetapi lihatlah sekarang, aku membuka pintu kamarnya, kulihat buku-buku, alat olah raga barbell, parfume, body lotion. Adiku bungsuku telah dewasa!

Adiku benar. Rumah sekarang terasa sepi. Mungkin karena dulu aku dengan kedua adiku hanya selisih 2 tahun, ada Bapak, bunda, aku, kedua adiku, dan ada dua sepupu yang tinggal bersama kami. Rumah terasa seperti rumah. Namun sekarang, rumah terasa tenang namun juga sepi. Siang hari seperti ini, dulu sewaktu aku masih kecil, saat aku malas ke sekolah dan aku berpura-pura sakit perut, rumah baru terasa tenang karena hanya ada aku dan bunda. Aku bisa mendengar bunda sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku suka sekali mendengar itu karena aku merasa ada bunda didekatku dan dirumah hanya ada aku dan bunda jadi pasti perhatian bunda hanya untuku walaupun hal itu hanya berlangsung beberapa jam karena jika adik-adiku sudah pulang sekolah pasti perhatian bunda terbagi bahkan lebih banyak ke adiku.

Hari kamis jadwal aku cek kandungan. Aku pun pergi ke rumah sakit dengan bunda. Tiba-tiba pada saat selesai pemeriksaan, Dokter mengatakan untuk operasi Caesar hari Senin. Aku terkejut karena cepat sekali, usia kandunganku saat itu hampir 36 minggu. Aku sempat menawar ke Dokter apakah bisa operasi dilakukan tgl. 17 Desember 2022? namun kata Dokter, hal itu tidak bisa karena terlalu lama. Sangat beresiko untuk kandungan yang besar dan dengan lilitan tali pusar. Dokter pun meminta aku untuk diskusi dengan suami dan memberikan surat rujukan untuk ke IGD pada hari minggu sore.

Sepulang dari rumah sakit, aku memberitahukan suamiku bahwa Dokter menyuruh operasi dilakukan hari senin. Suamikupun meminta foto surat rujukan dari dokter untuk pengajuan cuti. Suamiku dan adik-adiku datang ke rumah hari sabtu dan mereka mengantarkan kami ke IGD pada hari minggu sore.

Malam itu aku langsung masuk ke IGD, dilakukan test antigen dan diambil darahnya untuk cek laboratorium. Suamiku mengurus administrasi. Lalu aku dipindahkan ke ruangan transit. Bunda sebetulnya tidak ingin pulang. Dia ingin menemaniku, namun diruangan transit ini tidak ada tempat untuk istirahat si penunggu pasien. Hanya ada kursi untuk penunggu pasien jadi suamiku meminta bunda untuk beristirahat di rumah saja karena disini kurang nyaman tempatnya lagipula besok jadwal operasiku pagi belum tahu jam berapa jadi nanti pasti diberitahu kalau sudah tahu pasti jam operasinya. Bunda pun akhirnya setuju untuk pulang.

Malam hari, perawat datang mengecek detak jantung bayi dalam kandunganku dan tensi darahku. Dia juga menginformasikan bahwa operasi dilakukan jam 8 pagi dan aku diminta mandi dan bebersih diri sebelum operasi. Dia juga memintaku untuk puasa sebelum operasi. Setelah itu, kami pun menginformasikan ke Bunda jadwal operasi.

Diruang transit ini aku ditemani oleh suamiku. Ruangan transit ini adalah ruangan sementara sebelum operasi. Diruangan ini hanya ada ranjang untuk pasien, meja, kursi, dan kamar mandi. Ruangan transit ini merupakan gedung lama yang berdekatan dengan kamar jenazah atau kamar mayat. Cukup seram juga sih. Dan AC sepertinya tidak berfungsi karena ruangan terasa panas. Suamiku tidur di lantai sedangkan aku, semalaman sulit tidur. Mungkin karena panas atau karena rasa panik sebelum operasi. Aku pun berdoa supaya selalu dijagai.

Tidurku tidak nyenyak. Aku mendengar orang mengerang kesakitan. Orang itu melahirkan normal. Aku tahu karena gedung itu untuk penanganan melahirkan normal juga. Aku mendengarkannya sampai ada suara bayi. “Senang sekali” pikirku. Bayi itu terlahir selamat.

Suamiku terbangun pagi-pagi jam 4 dan aku mengeluh susah tidur. Akhirnya suamiku mengajaku berjalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar. Kami pun berjalan-jalan sebentar di koridor rumah sakit. Setelah aku sudah merasa sejuk, kamipun kembali ke ruangan. Jam 5 pagi, aku memutuskan untuk BAB dan mandi. Setelah itu aku bisa tidur dengan nyaman.

Aku terbangun jam 7 pagi karena mendengar suara perawat membuka pintu ruangan. Mereka mengecek detak jantung bayi. Mereka bilang kalau detak jantung bayiku agak cepat mungkin karena aku panik/ deg-degan jadi berpengaruh pada janin. Aku pun mengatur nafas melepaskan perasaan panic, setelah dicek kembali, detak jantung bayi berangsur kembali normal. Saat ini adalah saat dimana aku dan bayiku berjuang bersama. Aku berusaha mencurahkan segenap perasaanku, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya dan ingin cepat-cepat bertemu dengan dia. Baby, Semangatlah!

Aku sudah biasa disuntik karena sebelum hamil, aku rajin donor darah. Suntikan bukan apa-apa buatku. Walaupun hari ini perawat ada kesalahan pasang jarum infus yang menyebabkan bagian yang diinfus itu bengkak sehingga dilakukan pemasangan infus ulang, itu masih tidak masalah. Yang jadi masalah adalah pada saat pemasangan kateter! sangat tidak nyaman. Kalau bisa memilih, bisa tidak operasi tanpa pasang kateter?.

Ibuku datang saat sebelum aku dipindahkan ke ruang operasi. Dia menanyakan kondisiku dan memberikan semangat untuku. Saat itu aku mengingat kembali masa kecilku. Ibu selalu memberi semangat untuku disaat aku belum bisa melakukan sesuatu, dia meyakinkanku bahwa aku pasti bisa.

Saat memasuki ruang operasi, dokter menyapaku dan menyuruhku untuk berdoa lebih dulu karena operasi akan dilakukan. Akupun memejamkan mataku dan berdoa dalam hati. Dulu, aku merasa kematian adalah keuntungan dan memang kematian itu suatu keuntungan. Kamu tidak akan mengalami godaan duniawi, pencobaan, maupun perjuangan yang berat. Namun saat ini, aku minta Tuhan kasih kesempatan buatku untuk terus hidup karena aku mau merawat anaku dengan segenap hati. Aku yang dulu meminta anak ini melalui doa, maka akupun mau nanti mengembalikannya dengan baik. Anak ini harus mengenal Tuhannya, anak ini harus jadi anak Tuhan, anak ini harus jadi pribadi yang takut akan Tuhan, anak ini harus jadi terang dan menjadi saksi betapa mulia dan ajaibnya Tuhan.

Setelah itu, aku dipindahkan ke meja operasi, aku disuruh duduk membungkuk dalam kondisi perut yang besar jadi dokter memberiku bantal untuk dipeluk. Dokter anestesi mulai menyuntikan obat bius di punggungku. Orang bilang itu sakit. Bagiku, itu tidak seberapa dibandingkan rasa rinduku pada anaku yang belum pernah aku lihat wajahnya.

Aku disuruh berbaring kembali dan dokter menutupi bagian dada kebawah dengan pembatas kain. Dokter anestesi duduk disamping kepalaku dan menyuruhku untuk mengangkat kakiku.

Dokter anestesi : “Coba bu angkat kaki kanan ibu”. Akupun berusaha sekuat tenaga mengangkat kakiku. Aku mau dokter tahu bahwa bius nya belum berefek. jangan sampai mereka belah perutku dan aku merasakan sakit.

Dokter anestesi : “Coba angkat lagi bu, sudah terasa berat belum?”. Kembali aku angkat dengan segenap kekuatanku. Belum kerasa berat pun, pikirku.

Dokter anestesi : “Sekali lagi bu coba angkat”. Akupun kembali mengangkatnya namun kali ini kakiku terasa berat. Aku masih mencoba berusaha mengangkatnya.

Dokter bedah : “Sudah terasa berat ya bu?”

Aku : “Iya dok, sudah agak berat”.

Dokter bedah : “Ini perutnya saya cubit pakai pinset terasa tidak bu?”. Katanya sambil menunjukan pinset ditangannya. 

Aku tidak merasakan apapun. “Coba sekali lagi dok.” Aku pun minta dokter mencubitku kembali. Aku tidak percaya.

Dokter anestesi : “Coba dok, cubit lagi. Tidak percaya ini ibunya.” Katanya sambil bercanda.

Dokter bedah : “ini bu saya cubit ini. Terasa tidak?”

Aku : “Tidak dok.”

Dokter bedah : “Baik. Saya mulai ya bu operasinya.”

Mereka pun membelah perutku. Terasa suatu benda membelek perutku selapis demi selapis dengan cepat. Anehnya otaku merasakan apa yang terjadi diperutku tapi tidak terasa sakit sama sekali. Sesekali aku mencuri-curi melihat tindakan operasi melalui pantulan dari logam lampu operasi yang ada di atasku. Aku melihat darah, daging, tangan dokter bersarung tangan yang sedang memegang pisau bedah. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang dicabut dari tubuhku. Dadaku terasa sesak dan nyeri. Aku merasa seperti menjadi tanah dimana tumbuh pohon ketela yang besar. Nah, itu ditarik, digoyang-goyang, dan dicabut sekuat tenaga. Aku melihat bayi putih pucat diangkat dari perutku. Aku dengar dokter itu berkata : “Aduh ternyata lilitannya ada dua”. Aku lihat dokter itupun melepaskan lilitan tali pusar dari leher bayiku.

Dokter anestesi : “Coba dok, kasih lihat bayinya ke ibunya.” Dokter menggendong bayiku menunjukan ke aku sebentar. Aku memandanginya. Aku takjub. Inikah bayiku?

Dokter membawa kembali bayiku. Lalu aku mendengar tangisan bayi yang keras memenuhi kamar operasi. Akupun tersenyum sambil berkata dalam hati : “Anak itu memang ya, keras sekali teriakannya”. Mama bangga padamu untuk pertama kalinya kamu lahir ke dunia ini nak.

Nafasku sesak, air mataku mengalir, tubuhku menggigil tak beraturan.

Aku bilang ke dokter anestesi bahwa aku sesak. Dokter memintaku untuk tidak menangis dan terus hirup oksigen. Akupun berusaha untuk tidak menangis. Aku harus berjuang. Aku masih ingin hidup agar aku bisa menemani anaku sampai aku tua nanti.

Tuhan, aku percaya Engkau ada diruangan ini, menemaniku. Tolong beri aku kekuatan. Dengarkan doaku kali ini. Aku masih ingin hidup. Beri aku kesempatan untuk aku bisa merawat anaku. Jikalau Engkau ingin mengambil nyawaku, tolong jangan hari ini. Setidaknya sampai anak ini bisa mandiri dan mengenal Engkau dengan baik. Aku ingin mempersiapkannya.

***

Kamis, 10 Agustus 2023

The Love Letter - Part 2

        Chapter 1 : Journey To Be Mama - Part 2


         3.   Pertolongan Tuhan.

Kehamilanku awal-awal tidak merasakan hal-hal yang berbeda. Aku tidak merasakan mual atau ngidam. Kadang aku merasa kuatir dan ragu apakah aku sungguh hamil? Namun beberapa hari kemudian aku mulai merasa mual meskipun tidak sampai muntah, rasa mualku bisa datang sepanjang hari. Mulutku terasa pahit bahkan air putih pun terasa pahit dan aku mulai menjadi pemilih makanan. Semua makanan bisa membuatku mual hanya dengan mencium aromanya, apalagi telur! hanya melihat gambarnya saja aku tidak suka. Pada saat mau makan, aku butuh waktu lama untuk berfikir kira-kira makanan apa yang bias masuk ke perutku saat itu dan tentu saja es jeruk! hanya es jeruk asam yang bisa menghilangkan rasa pahit.

Aku merasa bayi dalam kandunganku ini adalah anak yang baik dan manis. Dibandingkan dengan kehamilan teman-temanku yang kudengar, aku merasa kehamilanku termasuk paling nyaman. Aku tidak merasa mengantuk dan lemas, selama hamil, kurang dari 10 kali aku muntah sampai keluar makanan, sisanya hanya rasa mual saja dan tidak nafsu makan tapi masih bisa aku paksakan demi kandunganku.

Setiap hari, pagi dan malam aku membaca Alkitab dengan bersuara berharap bayi dalam kandunganku ikut mendengarkannya. Apalagi dimalam hari aku memang sering terbangun untuk BAK, jadi aku sebelum kembali tertidur aku bisa saat teduh terlebih dahulu.

Dulu sebelum hamil, aku akui aku membaca Alkitab masih bolong-bolong. Saat tahu aku hamil, aku bertekad rutin membacanya dari awal sampai akhir tanpa putus. Ini salah satu hal kecil yang aku lakukan untuk mengenalkan firman Tuhan ke anakku.

Aku masih bisa berangkat kerja dari Bekasi ke Jakarta dengan motor dan kereta. Namun terkadang sepulang kerja perutku terasa kencang dan aku kelelahan jadi kami putuskan kami akan kost didekat kantorku. Saat itu tabungan kami mulai menipis karena kebutuhan kami meningkat, aku harus makan makanan sehat dan juga kontrol dokter kandungan sebulan sekali. Sebetulnya keputusan untuk ambil kost itu seperti kami berjalan dalam iman saja. Namun entah kenapa semua berjalan dengan lancar walaupun ada deg-degan nya seperti naik roller coaster.

Aku menanyai teman kantorku kost dekat kantor dan di tempat kost dia ada kamar kosong namun di lantai 2. Sebenarnya kami mencari kamar di lantai dasar untuk keamananku namun apa salah nya melihatnya dulu.

Sesampainya dikost tsb ada penjaga kost tepat depan kost yang direferensikan temanku menyapa kami, kami pun mengatakan maksud kami bahwa sedang cari kost dan hebatnya penjaga kost itu bilang tempatnya ada kamar kosong di lantai dasar. Wow, ini bukan kebetulan tapi ini kemurahan Tuhan! Kami pun langsung bayar dan bilang kalau kami akan segera pindah hari minggu ini.

Kami mulai menempati kost tgl. 29 Mei 2022, sebuah kamar kecil dengan kamar mandi didalamnya, Kasur busa, sebuah lemari pakaian, dan AC. Cukup nyaman untuk ditinggali kami berdua. Aku tak perlu takut ke kamar mandi sendirian ditengah malam, justru aku merasa tenang karena diruangan sempit ini justru mendekatkan aku dengan suamiku lebih lagi.

Masa-masa itu aku anggap sebagai masa-masa di padang gurun, saat itu suamiku sedang berusaha mencari pekerjaan. Aku tahu setiap aku di kantor, dia kesepian di kamar kost dan dia selalu berdoa supaya cepat mendapatkan pekerjaan karena sebentar lagi kami akan punya anak. Kami tidak memiliki tabungan untuk kelahiran anak, gaji ku seorang diri hanya bisa untuk membayar kebutuhan sehari-hari, 2 cicilan rumah, uang bulanan orang tua, dan biaya kontrol kandungan ke dokter specialist. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak kami.

Pada Tgl. 01 Juni 2022, suamiku mendapatkan undangan interview kerja. Kami pun menyewa working space untuk interview karena saat itu kami belum mendapatkan kode wifi kost dan signal disitu sangat susah. Aku menemani suamiku interview dan ikut mendengarkan karena kebetulan saat itu tanggal merah (Hari Lahir Pancasila). Suamiku melakukan interview dengan baik namun saat aku tanya gimana ekspresi Direktur yang menginterview dia katanya ekspresinya flat, tidak menunjukan exciting. Aku mencoba untuk menghibur suamiku supaya tidak down. Aku tahu rasanya berharap.

Malam harinya aku mendoakan pekerjaan suamiku. Aku berharap suamiku bisa cepat mendapatkan pekerjaan karena kami harus mulai menabung untuk kelahiran nanti. Suamikupun berdoa saat aku berangkat ke kantor, saat dia sendiri dikost dia minta pertolongan Tuhan supaya Tuhan melihat kami dan menolong kami. Kami percaya anak dalam kandungan kami ini adalah wujud dari belas kasih Tuhan dan Tuhan pasti juga akan sediakan semua kebutuhan anak kami.

Tgl. 17 Juni 2022, kabar baik itu tiba. Suamiku diterima kerja dan mulai bekerja awal Juli 2022. Tuhan baik. Setelah 1 tahun akhirnya suamiku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kami sangat bersyukur.

Diusia kandungan 3 bulan, Dokter mengatakan bahwa hasil lab prenatal aku kekurangan protein. Aku harus banyak makan yang mengandung protein. Tentu saja protein tinggi itu dari telur dan ikan. Aku pun memaksakan diri untuk memakan telur dan setiap hari aku makan ikan lele!

Diusia kandungan 4 bulan, mualku sudah agak berkurang dan aku sudah bisa makan telur tanpa rasa mual. Aku pun sudah merasa dalam perutku ada gerakan-gerakan yang membuatku bahagia dan terharu. Pada saat cek kandungan bulan ke 4, Dokter mengatakan akan memeriksa jenis kelamin bayi dalam kandungan. Aku memang setiap cek kandungan tidak pernah menanyakan jenis kelamin bayi karena aku sudah menanti anak ini hampir 4 tahun jadi apapun jenis kelaminnya, aku menerimanya dengan penuh rasa syukur yang terpenting bayi ini sehat tanpa kekurangan suatu apapun.

Saat dicek melalui USG, Dokter mengatakan bahwa bayiku adalah laki-laki. Kami bahagia. Kami memang telah menyiapkan nama anak laki-laki karena entah kenapa kami memiliki keyakinan dalam hati bahwa anak kami adalah laki-laki. Nama itu adalah Kyrie Eleison yang berarti Tuhan kasihinilah kami dan Immanuel yang berarti Tuhan beserta kita. Nama itu merupakan doa kami agar Tuhan berbelas kasih kepada anak kami, jika Tuhan berbelas kasih pada anak kami maka Tuhan pun akan selalu menyertainya. Dan Tuhan memang telah berbelas kasih kepada kami karena Dia telah menganugerahkan kami keturunan.

Meskipun dalam hatiku merasa bayi dalam kandunganku adalah laki-laki, namun aku selalu memanggil bayi dalam kandunganku dengan kata “Baby” karena apapun nanti yang Tuhan kasih, aku tidak mau anak ini merasa tertolak nantinya. Laki-laki maupun perempuan pasti aku terima dengan rasa syukur yang melimpah.

Tgl 25 Juli 2022 saat itu kandunganku belum genap 5 bulan. Setiap hari senin, kantorku melakukan pengecekan test antigen. Pada saat itu banyak sekali yang hasil testnya menunjukan positive dan saat aku melihat hasil testku, hasilnya positive! aku terkejut dan bingung. Saat itu aku langsung di PCR dan hasilnya baru bisa keluar secepatnya malam hari ini. Akupun diminta untuk pulang kerumah sembari menunggu hasil PCR. Sepanjang jalan aku menangis. Aku tidak memikirkan diriku. Aku sudah pernah mengalami covid 2x dan tidak masalah jika aku sendiri yang terkena, namun aku memikirkan kandunganku! Aku sangat sedih. Aku mencoba menghibur diri karena menangis hanya akan menurunkan imunku. Akupun mencari-cari film yang lucu, namun air mataku tak berhenti mengalir. Akupun tidak memberitahukan suamiku karena dia sedang bekerja, aku tidak ingin dia kuatir.

Sore hari ketika suamiku pulang kerja, aku baru mengatakannya kepada suamiku. Suamiku menenangkanku dan berkata “Tuhan sudah kasih kita anak, pasti Dia pun akan jagai anak kita. Bukankah kita selalu mendoakannya setiap hari? jadi jangan kuatir. Anak kita kuat.”. Dan Puji Tuhan, malam hari itu hasil PCR keluar dan hasilnya negative! Tuhan baik!

 

4.   Mukjizat.

Saat itu usia kandunganku sudah 6 bulanan. Setiap pagi dan malam, aku selalu membacakan Alkitab untuk janin dalam kandunganku. Aku sering mengajaknya berinteraksi dengan mengelus perut dan mengajaknya bicara. Aku berharap anakku bahagia dan sehat. Sekarang aku tahu kenapa anak disebut sebagai buah hati. Hati adalah salah satu organ yang sangat penting untuk manusia dan manusia memiliki satu hati. Semakin lama rasa sayangku semakin bertambah seiring bertambahnya usia kandunganku. Dia menemaniku kemanapun aku pergi. Ketika aku bersedih atau ada hal-hal yang membuatku sedih, anak ini memberikan semangat untuk aku tidak terlalu bersedih karena kalau aku sedih, aku takut membuat anaku juga merasa sedih didalam sana.

Aku punya teman kantor, kurnia namanya. Dia sangat senang saat tahu aku hamil karena dia tahu bagaimana usahaku untuk promil dan lamanya aku diberikan keturunan. Dia punya teman dekat yang mana dia dan temannya itu sama-sama sedang promil.

Saat itu aku bertemu dengan Kurnia di pantry kantor. Dia bercerita bahwa temannya sudah hamil, aku paham perasaan dia karena akupun mengalami hal yang sama, dimana kamu merasakan ikut bahagia untuk temanmu tapi juga sedih bersamaan karena kenapa hal itu (hamil) tidak terjadi juga kepadaku. Aku menyemangati kurnia, aku bilang : “Semua ada masanya dan kalau Tuhan sudah berkehendak maka akan jadi. Seperti aku yang promil kemanapun dan kujaga sebagai manapun jika Tuhan bilang ‘Belum’, ya tidak akan terjadi. Namun jika Tuhan bilang ‘Jadi.’ maka sesibuk apapun dan secapek apapun ya tetap jadi. Bayangkan disaat aku waktu itu perjalanan dinas ke Batam, pulang kantor selalu malam, bahkan ketika aku sudah pasrah justru saat itulah aku hamil.” Aku menyemangatinya.

Sejak saat itu, entah kenapa hatiku seperti terdorong untuk mendoakannya. Aku sempat ragu, aku takut jika aku mendoakannya dan tidak terjadi apa-apa, aku takut dia kecewa. Namun saat itu hatiku tersentil seperti Tuhan berkata : “Bukan kamu yang berkuasa membuatnya jadi ataupun tidak.” Saat itu aku tahu tugasku hanya mendoakannya.

Jika Tuhan berkuasa, kenapa harus kita doakan? mungkin kalian terbesit pertanyaan itu, karena akupun sempat mempertanyakan hal itu.

Tuhan tetap akan menjadikannya jika Dia berkehendak. Baik kita mendoakan maupun tidak. Namun apakah kita mau jadi alatnya atau melewatkan kesempatan untuk jadi alatNya? Juga Tuhan yang telah mengajarkan kita untuk berdoa. Bukankah orang yang meminta yang akan mendapat?

Sejak saat itu, sepertinya Tuhan selalu memberikan kesempatan buat aku berdua saja dengan Kurnia, namun karena keraguanku dan aku merasa belum siap, aku selalu melewatkan kesempatan tsb. Aku selalu merasa belum layak mendoakan orang lain. Sedangkan hatiku selalu ada dorongan untuk segera mengambil kesempatan itu. Dalam hati seperti berkata : “Hey, mau doa kamu buruk. Tuhan melihat hati pun Tuhan yang akan bekerja bukan karena doamu, tapi karena kuasa Tuhan. Terjadi maupun tidak, yang penting kamu sudah melakukan apa yang Tuhan suruh.” Lalu aku pun bertekad jika ada kesempatan lagi aku tidak akan mensia-siakannya.

Saat itu aku bertemu Kurnia di pantry kantor, aku sedikit ragu. Namun Kurnia membuka pembicaraan lebih dahulu. Dia bertanya-tanya seputar kehamilanku. Lalu akupun berkata : “Mau aku doakan?” padahal disana data office girl. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya fokus untuk segera melakukan apa yang Tuhan suruh tanpa menunda-nunda atau mencari-cari alasan lagi. Kurnia menjawab : “Boleh.” dengan raut muka agak bingung namun sinar matanya menunjukan semangat dan pengharapan. Akupun segera memeluknya sembari tangan kananku aku letakan pada perutnya dan mendoakannya. Tak terasa air mata kami menetes. Aku sudah tidak memikirkan lagi bahwa ada orang lain (Office girl) yang sedang ikut mendengarkan aku berdoa.

Sejak itu, kerinduan Kurnia untuk bisa hamil menjadi salah satu list dalam doaku setiap malam.

Beberapa minggu kemudian, kurnia datang ke mejaku mengatakan bahwa dia telat datang bulan. Aku menyuruhnya untuk cek ke dokter. Dia pun mengiyakan. Dia bilang setelah pulang kantor ini dia akan pergi ke dokter untuk cek kandungan.

Malamnya aku menanyakan hasil cek dokter ke Kurnia melalui Whatsapp. Dan berita suka cita pun datang. Kurnia hamil 5 minggu! Puji Tuhan. Betapa besar dan ajaib Tuhan.

Besok paginya dikantor, Kurnia mendatangi mejaku dan bilang terima kasih karena sudah mendoakannya, namun aku bilang bahwa itu semua karena kuasa Tuhan semata. Dalam hati aku berpegang teguh untuk tidak mencuri kemuliaan Tuhan.

Sebetulnya kehamilan Kurnia tidak hanya memberkati Kurnia dan keluarganya semata, tetapi justru aku lebih terberkati dari kejadian tsb. Aku sadar arti pentingnya respon hati dan yang terpenting adalah aku merasakan kasih Tuhan melingkupi aku dan juga keluargaku. Aku lebih mencintai Tuhan lebih lagi.


To be continue...

Rabu, 09 Agustus 2023

The Love Letter

 

“Mother is the only person who carries you for 9 months in her belly, 3 years in her arms, and forever in her hearts.”

Tulisan ini aku dedikasikan untuk anaku, anak sulungku Kyrie Eleison Immanuel Hutagalung. Supaya tulisan ini menjadi sebuah surat cinta dari seorang mama kepada anak tentang kelahirannya yang merupakan hadiah terindah dari Tuhan untuk Mama, Papa, Uti, Oppung, Uncle & Aunty. Mama berharap melalui tulisan ini, kamu tahu betapa berharganya kamu dimata Tuhan dan kami begitu mengasihi kamu.

Doa & Cinta kasihku akan selalu menyelimutimu kemanapun kakimu melangkah. Apapun yang kamu lalukan kelak jika itu baik menurut hati nuranimu, aku berharap kamu akan melakukannya dengan berani. Apapun yang kamu hadapi dan lalui, Tuhan akan senantiasa menuntun langkahmu dan Mama juga berharap kamu dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik dan tulus.



Chapter 1 

JOURNEY TO BE A MAMA 

 

1.    Berita Baik Itu Akhirnya Datang.

Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.

Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.

Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.

Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan.

Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.

TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga.

Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan.

Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa.

Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya. (1 Samuel 2:1–10)

Ayat itulah yang senantiasa menjadi pengiburan bagiku. Aku dan suamiku telah menikah hampir 4 tahun yang lalu, kami bahagia. Kami memiliki rumah, pekerjaan yang baik, tabungan, bahkan kami masih bisa berbagi. Kami saling support dan menyayangi satu sama lain, memiliki mertua dan ipar yang baik itu suatu anugerah bagi kami. Hanya satu yang belum kami miliki, yaitu seorang anak ditengah-tengah kami.

Kami berusaha untuk promil kemana orang bilang itu bagus. 4 rumah sakit, 4 tempat alternative, dan beberapa herbal yang orang bilang bagus, kami akan coba.

Oke, kami orang berpendidikan dan ber-Tuhan namun kami tetap mencoba ke tempat alternative. Pertama, mungkin karena kami begitu mengingini seorang anak sehingga logika kami tertutupi. Namun begitu, aku tetap berdoa dalam hati karena setengah dari diriku masih ada keraguan dalam pengobatan ini. Kedua, karena kami menuruti keinginan orang tua kami untuk melakukan pengobatan alternative tsb. Semua gagal dan memang seharusnya gagal.

Dua dokter mengatakan semua baik, tidak ada masalah. Satu dokter mengatakan rahimku pendek sehingga tidak dapat menampung sperma lebih lama. Satu lagi bahkan mengatakan bahwa aku ada kista sebesar 4 cm. Saat itu aku tidak bisa menahan tangis karena saat itu aku datang ke dokter tsb untuk periksa karena sudah 2 minggu aku telat datang bulan dan aku berharap hasilnya positif. Namun bukan kabar kehamilan yang aku terima. Tidak masalah jika dokter itu bilang aku belum hamil, karena aku sudah terbiasa kecewa akan hal itu. Namun dokter itu justru menyatakan dalam rahimku ada kista. Jahat sekali. Air mataku tidak bisa aku tahan saat itu. Di rumah sakit, di jalan, di rumah, aku menangis. Suamiku menenangkanku dan mengajaku berdoa bersama.

Didalam kamar, kami berpegangan tangan dan dia mendoakanku. Ajaib! Entah kenapa aku merasa tenang. Satu minggu kemudian kami memeriksakannya ke rumah sakit lain (karena memang aku sedikit trauma dan tidak mau ke rumah sakit yang dulu lagi) dan Tuhan sekali lagi menyatakan kasihnya kepada kami. Kista itu tidak ada!

Setelah melalui serangkaian pengobatan dari dokter, obat-obatan, HSG, dan analisa sperma, semua hasilnya baik kecuali hasil analisa sperma kurang bagus dan diminta untuk cek kembali 1 bulan ke depan. Setelah itu kami berhenti promil karena pada saat itu aku terkena sakit cacar air yang membuatku mengkonsumsi obat-obatan sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan promil.

Ya, terakhir kali kami promil dibulan Oktober 2019 karena dibulan September 2019 aku terkena cacar air dan di tahun 2020 ada pandemi Covid-19 yang membuat kami takut untuk mengunjungi Rumah Sakit. Saat itu 2 kali kami terkena covid, yaitu Delta dan Omicron. 


2.   Berkat.

Tahun 2022 pandemi sudah mulai berkurang dan menjadi New Normal. Orang-orang sudah bisa bebas berpergian. Dulu saat pandemi berlangsung, baik liburan Idul Fitri, Natal, maupun Tahun Baru, orang-orang dilarang berpergian keluar kota. Tahun baru 2022, Amang (Ayah mertuaku) mengharapkan kami untuk pulang. Saat itu posisi suamiku sedang menganggur sejak bulan Juni 2021. Dia bingung apakah harus pulang atau tidak. Akupun menyarankan suamiku untuk pulang karena uang dapat dicari, namun kesempatan membahagiakan orang tua kita tidak tahu sampai kapan kesempatan itu akan terus ada. Aku juga menyarankan suamiku agar kita bisa basuh kaki Amang & Inang (Ibu mertua). Sebenarnya aku sudah menyarankan untuk basuh kaki orang tua pada saat sebelum menikah, namun hal tsb tidak dilakukan oleh suamiku.

Entah kenapa sebelum menikah aku punya pemikiran untuk kita berdua bisa basuh kaki keluarga dahulu sebelum kita membina sebuah keluarga tersendiri. Malam itu sebelum hari pernikahan, aku membasuh kaki ibuku, berterima kasih karena sudah merawatku dan meminta maaf jika aku banyak sekali sering membuat ibuku sedih dan kecewa. Aku juga membasuh kaki adiku perempuan satu-satunya yang aku sayang. Aku merasa kurang menjadi kakak yang terbaik buat dia, namun aku bilang ke dia meskipun aku sudah menikah nanti, pintu rumahku terbuka untuk dia jika dia butuh untuk berkeluh kesah. Kami saling berpelukan dan menangis sampai-sampai aku hanya tidur 1 jam sehingga kulitku kering saat dimake up dan mataku sayu hahaha…tapi aku selalu tersenyum karena aku tidak mau foto pernikahanku buruk. >.<

Suamiku pun pernah basuh kaki ibuku setelah menikah. Waktu itu kami liburan ke kampung halamanku. Suamiku memasak ayam gulai untuk ibuku. Kami makan bersama dan kamipun basuh kaki ibuku yang membuat ibuku terharu dan mendoakan kami agar selalu bahagia. Tinggal Amang dan Inang kami belum melakukan basuh kaki meminta berkat dari mereka. Jadi tahun ini kami mau melunasi hutang kami tsb.

Kamipun pulang ke kota kelahiran suamiku dan merayakan tahun baru bersama Amang, Inang, dan saudara-saudara suami. Hari disaat kami akan balik ke Jakarta, sebelum berangkat kami basuh kaki Amang & Inang. Mereka terkejut dan terharu mungkin baru kali itu kaki mereka dibasuh oleh anak & menantu sambil meminta maaf juga meminta doa berkat dari mereka. Saat itu adalah hari yang mengharukan bagi kami sekaligus membuat kami menjadi lebih lega. Sebelum kami pergi, Amang memeluk suamiku sambil berkata “Apa yang kamu cari, pasti kamu dapatkan”.

Kami kembali ke Bekasi dengan perasaan lega. Ada suatu kekuatan tersendiri untuk kami melangkah seolah kekuatiran kami sudah terangkat. Aku mulai berserah. Semua aplikasi terkait deteksi kehamilan maupun kalender haid aku hapus dari HP. Aku sudah tidak menandai kalender lagi tanggal haid. Pola pikirku sudah berubah. “Menikah adalah untuk hidup berdua saling support saling mencintai satu sama lain dan menua bersama. Anak hanyalah bonus.” Kami menghabiskan waktu untuk bekerja, hidup berdua, jalan-jalan, dan menikmati hidup berdua.

Pada bulan Maret 2022, pada waktu Jumat Agung, saat perjamuan kudus aku berjanji pada Tuhan untuk hidup lebih baik lagi. Janjiku saat itu adalah berhenti untuk bergosip ^^ karena di kantor itu adalah hal yang sering dilakukan teman-teman selain bekerja ^^

Jadilah sejak saat itu jika teman kantor bergosip, aku menghindar dan tidak mau ikut-ikutan, akupun tidak ikut-ikutan teman-teman kantor yang berkelompok-kelompok dalam pertemanan. Aku tidak ikut A maupun B. Namun, menjadi netral itu sangat sulit karena pada akhirnya aku sendiri tidak memiliki teman akrab. Terkadang aku merasa terasing. Standar Tuhan memang sangat tinggi dan berat berbeda dengan standar manusia/ dunia. standar manusia masih bisa kompromi dengan pembenaran hidup harus balance (seimbang antara duniawi dan rohani) tapi sebenarnya Tuhan tidak suka kita hangat hangat kuku, bahkan ketika mata kita digunakan untuk melihat yang tidak benar sehingga membuat seluruh tubuh kita masuk ke neraka, alangkah lebih baik jika dicongkel mata kita?

Tgl. 18 Maret 2022 suamiku mengirim pesan melalui whatsapp bilang bahwa tadi pagi selesai doa, dia merasa seperti ada yang menggerakan untuk mencari minyak zaitun untuk membersihkan rumah. Jadi dia membeli minyak zaitun, mendoakannya dan mengoleskan minyak tsb disetiap sudut rumah. Minyak itu sudah jadi seperti minyak urapan jadi kalau kami mau berpergian jauh, suamiku selalu mengoleskannya membentuk tanda salib dikeningku setelah berdoa.

Di bulan April 2022 akhir, aku dan suami pulang ke kota kelahiranku. Saat itu adalah libur hari raya Idul Fitri. Liburan itu aku gunakan untuk ziarah ke makam Kakek, Nenek, dan Bapak. Seperti ada suatu dorongan dari hati untuk melakukan ziarah saat itu. Aku merasa kapan lagi aku nanti bisa ziarah seperti ini. Kami berkunjung juga ke keluarga bapak di Semarang. Aku senang sekali.

Pada tanggal 5 Mei 2022, kami kembali ke Bekasi. Kami sampai rumah pagi hari. Sesampainya di rumah, suamiku menyuruhku untuk test pack (cek kehamilan). Saat itu aku merasa hal itu akan sia-sia ditambah aku sudah buang air kecil sebelumnya. Padahal cek kehamilan harus memakai air kencing yang pertama. Meski begitu, aku menurut. Saat aku cek, hasilnya ada 2 garis! akupun heran apakah ini alatnya yang rusak? karena biasanya hanya garis satu. Akupun memanggil suamiku dan menanyakan jangan-jangan alat test nya sudah kadaluarsa dan suamiku menyarankan untuk cek ke bidan. Dulu, aku berkhayal ingin memberi kejutan ke suami pada saat aku hamil. Aku akan cek sendiri dan jika hasilnya positif, aku akan bungkus hasil test pack itu seperti kado dan memberikan kejutan ke suami. Namun, ini sangat berbeda. Aku yang terkejut! Hari itu juga kami pergi ke Rumah Sakit untuk memastikannya.

Dokter menanyakan kapan hari pertama haid terakhir? aku pun lupa karena semua aplikasi penanda haid ku sudah aku hapus. Suamiku yang ingat yaitu tgl 25 Maret 2022. Aku pun di USG dan terlihat kantong kehamilan dan janin yang masih sangat kecil. Hanya 1 titik. Dokter bilang usia kandunganku sudah 5 minggu. Wow! Besoknya aku diminta tidak masuk kerja oleh suami dan istirahat. Suamiku membelikan susu ibu hamil banyak sekali dan menyuruhku hanya berbaring di Kasur.

Kami sangat bahagia, keluarga besar pun bahagia. Kami sangat bersyukur. Tuhan sangat baik! Tgl. 5 Mei 2022 menjadi hari yang bahagia sekaligus bingung. Tuhan sudah memberikan kado ulang tahun ku dimuka. Dihari ulang tahunku (13 Mei 2022) aku membagikan makanan untuk teman kantor sebagai wujud syukurku.


To be continue...