1. Trimester 3
Memasuki kehamilan trimester 3, perutku semakin besar membuatku kepayahan dalam bergerak. Namun aku tetap berusaha aktif karena aku ingin mengajari anak dalam kandunganku jadi anak rajin. Aku mulai berbelanja kebutuhan bayi dan juga lembur dihari sabtu untuk mempersiapkan pekerjaan yang nantinya aku serahkan ke tim pada saat aku cuti melahirkan. Begitu banyak yang harus dipersiapkan.
Pekerjaan harus sudah rapi saat serah terima, mengajari tim apa-apa yang harus dikerjakan nantinya, membuat memo berita acara serah terima, mencari faskes terbaik di kampung halaman (karena aku berencana melahirkan di Pemalang), mengganti faskes, belanja keperluan bayi, mengurus pindahan dari kost, mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa saat pulang nanti. Semua pekerjaan itu membuat waktu terasa berjalan cepat.
Saat aku lelah, membongkar dan melihat-lihat perlengkapan bayi yang sebagian sudah aku beli adalah hiburan tersendiri buatku. Baju-baju bayi yang kecil membuatku membayangkan gimana imutnya bayiku nanti dalam gendongan.
Kehamilanku tidak ada masalah sama sekali, hingga suatu hari setelah aku selesai lembur merapikan dokumen, aku mulai merasa tidak nyaman saat berjalan. Tulang-tulang bagian bawah sudah mulai sakit saat berdiri dan berjalan. Puji Tuhan hal itu baru terasa disaat pekerjaan sudah selesai. Aku pun mulai ambil cuti.
Adiku Cethi menjemputku untuk pulang kampung, sebelum itu kami pergi berbelanja bersama membeli kebutuhan bayi. Aku sengaja menanyai pendapat dia saat membeli baju bayi, selimut dan sebagainya. Aku membeli apa yang menjadi pilihan tante dari anaku kelak. Kami pun berkendara bertiga (tentu saja dengan Baby dalam perutku) dari Jakarta ke Pemalang dengan mobilnya. Senang sekali rasanya menghabiskan waktu berdua dengan adiku. Adik perempuanku satu-satunya. Kami mengobrol selama perjalanan.
Aku tidak tahu kapan lagi aku bisa
mengahiskan waktu dengan adiku seperti ini lagi.
2. Penantian.
Senang rasanya kembali ke rumah. Tempat dimana ada ketenangan dan kenyamanan. Tempat yang penuh dengan kenangan masa kecil. Ah, libur yang sangat panjang. Sebelumnya, aku selalu melalui hari-hari sibuk di kantor dari hari senin sampai jumat, dengan hiruk pikuk jalanan ibu kota yang selalu aku lalui, dimana orang-orang terlihat mengerutkan kening, lelah, dan terburu-buru. Sangat kontras dengan kehidupan di desa.
Hingga pada saat jadwal control dokter tiba. Aku memang sudah memikirkannya jauh hari untuk Rumah Sakit yang kupilih untuk tempat melahirkan nanti. Karena Dokter kandunganku yang di Bekasi menyarankan kalau memang ingin melahirkan di kampung harus memilih RS yang lumayan besar karena bayiku di indikasi ada potensi Hipoglikemi jadi perlu RS yang memadai apabila terjadi sesuatu. Jadi aku pilih RSUD di Kabupaten tempat kelahiranku. Disana aku ditangani oleh Dokter yang lumayan dikenal dalam per SC an dan orangnya sangat baik dan ramah. Hasil USG kali ini, Dokter mengatakan bahwa bayi sudah posisi memutar. Kepala sudah dibawah hanya saja masih tinggi. Dan aku harus kembali cek seminggu lagi.
Setelah selesai, aku dan bunda menyempatkan diri berjalan-jalan dan berbelanja ke super market. Meskipun untuk berjalan tulang-tulang dibawah terasa sakit, namun aku paksakan jalan pelan-pelan. Aku senang bisa berjalan-jalan dan berbelanja bersama bunda.
Aku menghabiskan waktu dengan mempersiapkan keperluan bayi, membeli perlengkapan yang masih kurang, mencuci semua perlengkapan bayi dan menatanya, dan juga berolah raga ringan berjalan-jalan seputaran rumah. Terkadang melihat-lihat kamar adik-adik yang kosong hanya tinggal 1 adik yang masih sekolah. Waktu berjalan sangat cepat tanpa disadari. Dulu adiku yang paling kecil masih imut, dia selalu mengeluh kesepian karena semua kakak-kakaknya telah bekerja dan merantau sehingga dia hanya tinggal berdua dengan bunda. Tetapi lihatlah sekarang, aku membuka pintu kamarnya, kulihat buku-buku, alat olah raga barbell, parfume, body lotion. Adiku bungsuku telah dewasa!
Adiku benar. Rumah sekarang terasa sepi. Mungkin karena dulu aku dengan kedua adiku hanya selisih 2 tahun, ada Bapak, bunda, aku, kedua adiku, dan ada dua sepupu yang tinggal bersama kami. Rumah terasa seperti rumah. Namun sekarang, rumah terasa tenang namun juga sepi. Siang hari seperti ini, dulu sewaktu aku masih kecil, saat aku malas ke sekolah dan aku berpura-pura sakit perut, rumah baru terasa tenang karena hanya ada aku dan bunda. Aku bisa mendengar bunda sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. Aku suka sekali mendengar itu karena aku merasa ada bunda didekatku dan dirumah hanya ada aku dan bunda jadi pasti perhatian bunda hanya untuku walaupun hal itu hanya berlangsung beberapa jam karena jika adik-adiku sudah pulang sekolah pasti perhatian bunda terbagi bahkan lebih banyak ke adiku.
Hari kamis jadwal aku cek kandungan. Aku pun pergi ke rumah sakit dengan bunda. Tiba-tiba pada saat selesai pemeriksaan, Dokter mengatakan untuk operasi Caesar hari Senin. Aku terkejut karena cepat sekali, usia kandunganku saat itu hampir 36 minggu. Aku sempat menawar ke Dokter apakah bisa operasi dilakukan tgl. 17 Desember 2022? namun kata Dokter, hal itu tidak bisa karena terlalu lama. Sangat beresiko untuk kandungan yang besar dan dengan lilitan tali pusar. Dokter pun meminta aku untuk diskusi dengan suami dan memberikan surat rujukan untuk ke IGD pada hari minggu sore.
Sepulang dari rumah sakit, aku memberitahukan suamiku bahwa Dokter menyuruh operasi dilakukan hari senin. Suamikupun meminta foto surat rujukan dari dokter untuk pengajuan cuti. Suamiku dan adik-adiku datang ke rumah hari sabtu dan mereka mengantarkan kami ke IGD pada hari minggu sore.
Malam itu aku langsung masuk ke IGD, dilakukan test antigen dan diambil darahnya untuk cek laboratorium. Suamiku mengurus administrasi. Lalu aku dipindahkan ke ruangan transit. Bunda sebetulnya tidak ingin pulang. Dia ingin menemaniku, namun diruangan transit ini tidak ada tempat untuk istirahat si penunggu pasien. Hanya ada kursi untuk penunggu pasien jadi suamiku meminta bunda untuk beristirahat di rumah saja karena disini kurang nyaman tempatnya lagipula besok jadwal operasiku pagi belum tahu jam berapa jadi nanti pasti diberitahu kalau sudah tahu pasti jam operasinya. Bunda pun akhirnya setuju untuk pulang.
Malam hari, perawat datang mengecek detak jantung bayi dalam kandunganku dan tensi darahku. Dia juga menginformasikan bahwa operasi dilakukan jam 8 pagi dan aku diminta mandi dan bebersih diri sebelum operasi. Dia juga memintaku untuk puasa sebelum operasi. Setelah itu, kami pun menginformasikan ke Bunda jadwal operasi.
Diruang transit ini aku ditemani oleh suamiku. Ruangan transit ini adalah ruangan sementara sebelum operasi. Diruangan ini hanya ada ranjang untuk pasien, meja, kursi, dan kamar mandi. Ruangan transit ini merupakan gedung lama yang berdekatan dengan kamar jenazah atau kamar mayat. Cukup seram juga sih. Dan AC sepertinya tidak berfungsi karena ruangan terasa panas. Suamiku tidur di lantai sedangkan aku, semalaman sulit tidur. Mungkin karena panas atau karena rasa panik sebelum operasi. Aku pun berdoa supaya selalu dijagai.
Tidurku tidak nyenyak. Aku mendengar orang mengerang kesakitan. Orang itu melahirkan normal. Aku tahu karena gedung itu untuk penanganan melahirkan normal juga. Aku mendengarkannya sampai ada suara bayi. “Senang sekali” pikirku. Bayi itu terlahir selamat.
Suamiku terbangun pagi-pagi jam 4 dan aku mengeluh susah tidur. Akhirnya suamiku mengajaku berjalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar. Kami pun berjalan-jalan sebentar di koridor rumah sakit. Setelah aku sudah merasa sejuk, kamipun kembali ke ruangan. Jam 5 pagi, aku memutuskan untuk BAB dan mandi. Setelah itu aku bisa tidur dengan nyaman.
Aku terbangun jam 7 pagi karena mendengar suara perawat membuka pintu ruangan. Mereka mengecek detak jantung bayi. Mereka bilang kalau detak jantung bayiku agak cepat mungkin karena aku panik/ deg-degan jadi berpengaruh pada janin. Aku pun mengatur nafas melepaskan perasaan panic, setelah dicek kembali, detak jantung bayi berangsur kembali normal. Saat ini adalah saat dimana aku dan bayiku berjuang bersama. Aku berusaha mencurahkan segenap perasaanku, aku ingin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya dan ingin cepat-cepat bertemu dengan dia. Baby, Semangatlah!
Aku sudah biasa disuntik karena sebelum hamil, aku rajin donor darah. Suntikan bukan apa-apa buatku. Walaupun hari ini perawat ada kesalahan pasang jarum infus yang menyebabkan bagian yang diinfus itu bengkak sehingga dilakukan pemasangan infus ulang, itu masih tidak masalah. Yang jadi masalah adalah pada saat pemasangan kateter! sangat tidak nyaman. Kalau bisa memilih, bisa tidak operasi tanpa pasang kateter?.
Ibuku datang saat sebelum aku dipindahkan ke ruang operasi. Dia menanyakan kondisiku dan memberikan semangat untuku. Saat itu aku mengingat kembali masa kecilku. Ibu selalu memberi semangat untuku disaat aku belum bisa melakukan sesuatu, dia meyakinkanku bahwa aku pasti bisa.
Saat memasuki ruang operasi, dokter menyapaku dan menyuruhku untuk berdoa lebih dulu karena operasi akan dilakukan. Akupun memejamkan mataku dan berdoa dalam hati. Dulu, aku merasa kematian adalah keuntungan dan memang kematian itu suatu keuntungan. Kamu tidak akan mengalami godaan duniawi, pencobaan, maupun perjuangan yang berat. Namun saat ini, aku minta Tuhan kasih kesempatan buatku untuk terus hidup karena aku mau merawat anaku dengan segenap hati. Aku yang dulu meminta anak ini melalui doa, maka akupun mau nanti mengembalikannya dengan baik. Anak ini harus mengenal Tuhannya, anak ini harus jadi anak Tuhan, anak ini harus jadi pribadi yang takut akan Tuhan, anak ini harus jadi terang dan menjadi saksi betapa mulia dan ajaibnya Tuhan.
Setelah itu, aku dipindahkan ke meja operasi, aku disuruh duduk membungkuk dalam kondisi perut yang besar jadi dokter memberiku bantal untuk dipeluk. Dokter anestesi mulai menyuntikan obat bius di punggungku. Orang bilang itu sakit. Bagiku, itu tidak seberapa dibandingkan rasa rinduku pada anaku yang belum pernah aku lihat wajahnya.
Aku disuruh berbaring kembali dan dokter menutupi bagian dada kebawah dengan pembatas kain. Dokter anestesi duduk disamping kepalaku dan menyuruhku untuk mengangkat kakiku.
Dokter anestesi : “Coba bu angkat kaki kanan ibu”. Akupun berusaha sekuat tenaga mengangkat kakiku. Aku mau dokter tahu bahwa bius nya belum berefek. jangan sampai mereka belah perutku dan aku merasakan sakit.
Dokter anestesi : “Coba angkat lagi bu, sudah terasa berat belum?”. Kembali aku angkat dengan segenap kekuatanku. Belum kerasa berat pun, pikirku.
Dokter anestesi : “Sekali lagi bu coba angkat”. Akupun kembali mengangkatnya namun kali ini kakiku terasa berat. Aku masih mencoba berusaha mengangkatnya.
Dokter bedah : “Sudah terasa berat ya bu?”
Aku : “Iya dok, sudah agak berat”.
Dokter bedah : “Ini perutnya saya cubit pakai pinset terasa tidak bu?”. Katanya sambil menunjukan pinset ditangannya.
Aku tidak merasakan apapun. “Coba sekali lagi dok.” Aku pun minta dokter mencubitku kembali. Aku tidak percaya.
Dokter anestesi : “Coba dok, cubit lagi. Tidak percaya ini ibunya.” Katanya sambil bercanda.
Dokter bedah : “ini bu saya cubit ini. Terasa tidak?”
Aku : “Tidak dok.”
Dokter bedah : “Baik. Saya mulai ya bu operasinya.”
Mereka pun membelah perutku. Terasa suatu benda membelek perutku selapis demi selapis dengan cepat. Anehnya otaku merasakan apa yang terjadi diperutku tapi tidak terasa sakit sama sekali. Sesekali aku mencuri-curi melihat tindakan operasi melalui pantulan dari logam lampu operasi yang ada di atasku. Aku melihat darah, daging, tangan dokter bersarung tangan yang sedang memegang pisau bedah. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang dicabut dari tubuhku. Dadaku terasa sesak dan nyeri. Aku merasa seperti menjadi tanah dimana tumbuh pohon ketela yang besar. Nah, itu ditarik, digoyang-goyang, dan dicabut sekuat tenaga. Aku melihat bayi putih pucat diangkat dari perutku. Aku dengar dokter itu berkata : “Aduh ternyata lilitannya ada dua”. Aku lihat dokter itupun melepaskan lilitan tali pusar dari leher bayiku.
Dokter anestesi : “Coba dok, kasih lihat bayinya ke ibunya.” Dokter menggendong bayiku menunjukan ke aku sebentar. Aku memandanginya. Aku takjub. Inikah bayiku?
Dokter membawa kembali bayiku. Lalu aku mendengar tangisan bayi yang keras memenuhi kamar operasi. Akupun tersenyum sambil berkata dalam hati : “Anak itu memang ya, keras sekali teriakannya”. Mama bangga padamu untuk pertama kalinya kamu lahir ke dunia ini nak.
Nafasku sesak, air mataku mengalir, tubuhku menggigil tak beraturan.
Aku bilang ke dokter anestesi bahwa aku sesak. Dokter memintaku untuk tidak menangis dan terus hirup oksigen. Akupun berusaha untuk tidak menangis. Aku harus berjuang. Aku masih ingin hidup agar aku bisa menemani anaku sampai aku tua nanti.
Tuhan, aku percaya Engkau ada
diruangan ini, menemaniku. Tolong beri aku kekuatan. Dengarkan doaku kali ini.
Aku masih ingin hidup. Beri aku kesempatan untuk aku bisa merawat anaku.
Jikalau Engkau ingin mengambil nyawaku, tolong jangan hari ini. Setidaknya sampai
anak ini bisa mandiri dan mengenal Engkau dengan baik. Aku ingin
mempersiapkannya.
***